Sabtu, 01 Juni 2013

Jenis-Jenis Implikatur

Dalam artikel sebelumnya, penulis telah membahas tentang definisi dari implikatur, percakapan implikatur beserta contoh-contohnya. Kali ini, penulis akan coba menjabarkan tentang jenis-jenis dari implikatur menurut teori dari para ahli pragmatik dan semantik.
Dalam teorinya, Grice (1975:45) membedakan dua macam implikatur, yaitu conventional implicature (implikatur konvensional) dan conversational implicature (implikatur non konvensional atau implikatur percakapan). Lyons (1995:272) menjelaskan perbedaan antara kedua implikatur tersebut:
“The difference between them is that the former depend on something what is truth-conditional in the conventional use, or meaning, of particular forms and expressions, whereas the latter derive from a set of more general principles which regulate the proper conduct of conversation.”
“Perbedaan antara implikatur konvensional dan implikatur nonkonvensional adalah bahwa bentuk keduanya tergantung pada kondisi kebenaran dalam penggunaan konvensional, atau makna, bentuk-bentuk tertentu dan ekspresi, sedangkan yang kedua berasal dari seperangkat prinsip yang lebih umum yang mengatur perilaku yang tepat dari percakapan.”
Implikatur konvensional adalah implikatur yang diperoleh dari makna kata, bukan dari pelanggaran prinsip percakapan. Adapun implikatur nonkonvensional adalah implikatur yang diperoleh dari fungsi pragmatis yang tersirat dalam suatu percakapan.
Implikatur konvensional dikaitkan dengan pemakaian dan pemaknaan umum, sementara implikatur percakapan merujuk pada prinsil-prinsip dalam pertuturan secara tepat. Pemilahan kedua jenis implikatur tersebut selengkapnya diuraikan sebagai berikut:
-          Implikatur Konvensional
Implikatur konvensional ialah implikasi atau pengertian yang bersifat umum dan konvensional, dengan kata lain semua orang pada umumnya sudah mengetahui dan memahami maksud atau implikasi suatu hal tertentu. Pemahaman terhadap implikasi yang bersifat konvensional mengandaikan kepada pendengar/pembaca memiliki pengalaman dan pengetahuan umum. Grice (1975:44) memaparkan contoh sebagai berikut:

He is an English man, therefore he is brave

            Contoh kalimat di atas memiliki pasangan unsur yang menentukan adanya makna konvensi yang memiliki implikasi tuturan, yakni orang Inggris memiliki keberanian dan dia memiliki keberanian karena dia orang Inggris. Meskipun makna konvensi semacam itu masih dapat diperdebatkan, namun diharapkan pendengar/pembaca dapat memahami dan memaklumi sifat konvensionalnya.
Implikatur konvensional bersifat non-temporer, artinya makna itu lebih tahan lama. Suatu leksem tertentu, yang terdapat dalam suatu bentuk ujaran, dapat dikenali irnplikasinya karena maknanya yang "lama" dan sudah diketahui secara umum.

-          Implikatur Non-konvensional atau Implikatur Percakapan
Implikatur percakapan muncul dalam suatu tindak percakapan. Oleh karena itu sifatnya temporer (terjadi saat berlangsungnya tindak percakapan), dan non-konvensional (sesuatu yang diimplikasikan tidak mempunyai relasi langsung dengan tuturan yang diucapkan). (Levinson, 1991:117)
Menurut Grice (1975:45) ada seperangkat asumsi yang melingkupi dan mengatur kegiatan percakapan sebagai suatu tindak berbahasa (speech act). Menurut analisisnya, perangkat asumsi yang memandu tindakan orang dalam percakapan itu adalah "prinsip kerja sama" (cooperative principle). Dalam melaksanakan "kerja sama" tindak percakapan itu, setiap penutur harus mematuhi empat maksim percakapan (maxim of conversation), yaitu: maksim kuantitas (maxims of quantity), maksim kualitas (maxims of quality), maksim relevansi (maxims of relevance), dan maksim cara (maxims of manner). (Grice, 1975:45-47)
Prinsip kerja sama yang terjabar dalam empat maksim itu, bersifat mengatur (regulative). Oleh karena itu, secara normatif setiap percakapan harus mematuhinya. Secara ringkas, prinsip kerja sama tindak percakapan itu dirumuskan oleh Nababan (1987:31) sebagai berikut.
"Buatlah sumbangan percakapan anda sedemikian rupa sebagaimana diharapkan, pada tingkat percakapan yang bersangkutan, oleh tujuan percakapan yang diketahui atau oleh arah percakapan yang sedang anda ikuti".
Namun, kadang-kadang prinsip itu tidak selamanya dipatuhi. Sehingga dalam suatu percakapan banyak ditemukan "pelanggaran" terhadap aturan/prinsip kerja sama tersebut. Pelanggaran terhadap prinsip itu tidak berarti "kerusakan" atau "kegagalan" dalam percakapan (komunikasi). Pelanggaran itu, barangkali justru disengaja oleh penutur untuk memperoleh efek implikatur dalam tuturan yang diucapkannya, misalnya untuk berbohong, melucu, atau bergurau.
Di samping implikatur percakapan, Gazdar (via Levinson, 1991:132) mengembangkan jenis implikatur lain, yaitu particularized implicature dan generalized (standard) implicature. Implikatur yang terakhir ini masih dapat dibagi lagi menjadi dua, yaitu scalar implicature dan clausal implicature. Karena keterbatasan, jenis-jenis implikatur tersebut tidak dibahas di sini.
Adanya berbagai jenis implikatur menunjukkan betapa rumit dan kompleksnya suatu tuturan. Untuk memahami implikatur percakapan, diperlukan pengalaman dan pengetahuan tentang situasi tindak tutur. Dengan kata lain, implikatur dapat dengan mudah dipahami jika para penutur telah berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam percakapan yang dilakukannya.
            Grice membedakan lagi secara dikotomis implikatur percakapan, yaitu (1) implikatur percakapan khusus, dan (2) implikatur percakapan umum. Implikatur percakapan khusus adalah implikatur yang kemunculannya memerlukan konteks khusus. Adapun implikatur percakapan umum adalah implikatur yang kehadirannya di dalam percakapan tidak memerlukan konteks khusus.
            Sperba dan Wilson (1986:194-195) dalam Nadar (2009:62) membedakan implikasi menjadi dua macam, yaitu implicated premises dan implicated conclusion dengan penjelasan mengenai perbedaannya sebagai berikut: implicated premises harus dilakukan oleh pendengar yang mengembangkan ancangan-ancangan asumsi yang diperoleh dari ingatannya ‘implicated must be supplied by the hearer, who must either retrieve them from memory or construct them by developing assumption schemas retrieved from memory’ sedangkan implicated conclusion diperoleh dengan jalan menyimpulkan dari keterangan tuturan dengan konteksnya ‘implicated conclusions are deduced from the explicatures of the utterance and the context’.
            Ilustrasi mengenai perbedaan implicated dan implicated conclusion, diberikan oleh kedua linguis tersebut dengan contoh dialog berikut:
Peter   : “Would you drive a Mercedes?”
                           “Maukah Anda mengendarai sebuah Mercedes?”
            Mary   : “I wouldn`t drive any expensive car.”
                           “Saya tidak mau mengendarai mobil mewah manapun”
            Dalam percakapan di atas, dapat kita lihat jawaban Mary bukanlah merupakan jawaban langsung terhadap pertanyaan Peter. Namun, menjelaskan bahwa bahwa A Mercedes is an expensive car. Kalimat tersebut termasuk ke dalam implicated premises yang melahirkan penyimpulan makna Mary wouldn`t drive a Mercedes, yang disebut sebagai implicated conclusion.

Reference
Grice, H. P. (2004). Logic and Conversation. London: University College London for Pragmatic Theory Online Course
Levinson, Stephen C. 1991. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press.

Lyons, John. 19913. Linguistics Semantics an Introduction. Cambridge: Cambridge University Press.
 Nababan, PWJ. 1987. IImu Pragmatik (Teori dan Penerapannya). Jakarta: Depdikbud.

Nadar, F. X. 2009. Pragmatik & Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu
 
Wright, Richard. 1975. "Meaning and Conversational Implicature", Cole and Morgan, Syntax 
                    and Semantics Vol. 3: Speech Act. New York: Academy Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar