Rabu, 19 Desember 2012

Deixis

Deiksis (deixis) merupakan cabang dari ilmu bahasa yakni Pragmatik, kata deiksis berasal dari bahasa Yunani Deiktitos yang berarti "hal penunjukan secara langsung". Sebuah kata dikatakan bersifat deiktis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu. (Kaswanti Purwo: 1983:1-2); (Parker, 1986:38).

Deixis bisa juga diartikan sebagai kata yang referennya selalu berubah tergantung pada konteks. Deixis juga merupakan bagian dari ilmu bahasa (lingusitic) yakni bagian dari pragmatik yang memiliki hubungan dengan kata-kata atau kalimat yang berubah karena situasi dan konteks kalimat tersebut.

Menurut Bambang Kaswanti Purwo dalam bukunya 'Pragmatik dan Pengajaran Bahasa' (1984:17). Kata seperti saya, sini, sekarang adalah kata-kata yang deiktis. Kata-kata seperti ini tidak memiliki referen yang tetap. Berbeda halnya dengan kata seperti kursi, rumah, kertas. Siapapun yang mengucapkan kata kursi, rumah, kertas,di tempat manapun, pada waktu kapanpun, referen yang diacu tetaplah sama. Akan tetapi, referen dalam kata saya, sini, sekarang barulah dapat diketahui jika diketahui pula siapa, di tempat mana, dan pada waktu kapan kata-kata itu diucapkan.


Levinson (1983:62) menyebutkan bahwa dalam bahasa Inggris deiksis dapat diklasifikasikan menjadi lima bagian, yaitu deiksis personal 'personal deixis', deiksis ruang 'place deixis' deiksis waktu 'time deixis', deiksis sosial 'social deixis', dan deiksis wacana 'discourse deixis'. Seperti yang dijelaskan dalam buku Levinson (Pragmatics) seperti berikut:

1.  Deiksis Personal (Personal Deixis)

Personal deixis concerns the encoding of the participants in the speech event in which the utterance in question is delivered. The category of personal divided into three: the category are first person is the grammatically of the speaker`s reference himself, second person the encoding of the speaker`s reference to one or more addresses. Third persons encode of reference to person and entities that are neither speakers nor addressees of the utterance in question.
Levinson (1983:62).

("Deiksis personal berhubungan dengan pemahaman mengenai peserta pertuturan dalam situasi pertuturan di mana tuturan tersebut dibuat. Kategori dari personal deiksis dibagi kedalam tiga bagian: kategorinya adalah orang pertama adalah tata bahasa dari referensi pembicara sendiri. Orang kedua adalah pemahaman pada referensi pembicara pada satu atau lebih tujuan. Orang ketiga adalah pemahaman referensi untuk orang dan entitas penutur dan petutur dari ucapan tersebut dalam pertanyaan").

Sebagai contohnya, penggunaan kata ganti orang pertama adalah referensi penutur untuk penutur untuk dirinya sendiri, orang kedua untuk menunjuk kepada satu arah atau lebih lawan tuturnya, sedangkan orang ketiga untuk menunjuk selain diri penutur maupun lawan tuturnya. (Nadar F.X.:2009:56).

Personal deiksis adalah referensi deiktis pada fungsi referensi, yakni penutur, petutur dan referen yang bukan penutur atau petutur. 

Lyon, (1968:276) "Person deixis is not only referring someone or somebody, but also it can refer something"

("Personal deiksis tidak hanya mengacu pada seseorang atau lainnya, deiksis juga bisa mengacu pada sesuatu")

Oleh karena itu, dengan menggunakan deiksis personal petutur bisa mengacu pada apapun. Bisa seseorang (manusia) atau sesuatu (benda).

Kata-kata deiksis personal termasuk ke dalam subject pronoun (I, you, we, they, he, she, it), object pronoun (me, you, him, her, it, us, you, them), possessive adjective (my, your, his, her, its, our, their), possessive pronoun (mine, yours, his, hers, ours, and theirs) dan reflexive pronoun (myself, yourself, himself, herself, itself, ourselves, yourselves, themselves).

Untuk lebih jelas, kita lihat contoh deiksis personal di bawah ini:

"She wants to get the best score in the final exam"

Dalam kata she penutur adalah seorang perempuan, tapi bisa saja mengacu pada perempuan lain ketika perempuan lain mengatakan hal yang sama. Kata she tidak dapat berubah, tapi referennya bisa berubah tergantung pada siapa yang mengucapkannya. Kata she adalah bentuk tunggal dari subject pronoun dari kata ganti orang ketiga.

"He burned himself"

Dari contoh di atas, ada dua bentuk deiksis personal. Pertama adalah he dan yang kedua adalah himself. Dua kata tersebut mengacu pada penutur. Kata he adalah bentuk tunggal dari subject pronoun dari kata ganti orang ketiga, sedangkan kata himself mengacu pada singular reflexive pronoun dari kata he.

2. Deiksis Waktu (Time Deixis)

Deiksis waktu mengacu pada waktu yang relatif pada waktu pembicaraan atau percakapan berlangsung.

Time deixis makes ultimate reference to participant-role, so it is important to distinguish the moment of utterance from the moment of reception (Levinson, 1983:73).

("Deiksis waktu membuat keistimewaan mengacu pada fungsi peserta, deiksis waktu sangat penting untuk membedakan saat percakapan berlangsung dan penerimaan percakapan").

Deiksis waktu akan sangat mudah diketahui jika penutur dan petutur mengerti waktu percakapan dan berlangsungnya percakapan serta maksud dari percakapan tersebut. Ada beberapa kata yang termasuk deiksis waktu, diantaranya: now, yesterday, tomorrow, today, months, afternoon, etc.

"Tomorrow is Sunday" 

Kata tomorrow termasuk pada deiksis waktu karena mengacu pada hari yang relevan. Dari pembicaraan, waktu ketika percakapan dibicarakan adalah pada hari Jum`at (Friday) karena kata tomorrow mengacu pada hari Sabtu (Saturday).

"I saw him last week"


Kata last week (minggu depan) termasuk pada deiksis waktu, kata last week mengacu pada waktu yang pasti terjadi ketika percakan dibicarakan.

3. Deiksis Ruang (Place Deixis)  

Deiksis ruang adalah hubungan tempat antara penutur dan hal yang dimaksud. Levinson mengatakan dalam Pragmatics

Place deixis concerns the encoding of spatial locations relative to the location of the participants in the speech. (Levinson, 1983:62).

("Deiksis tempat behubungan dengan pemahaman lokasi ruang atau tempat yang digunakan pada lokasi tempat peserta pembicara dalam pembicaraan")

Tempat atau lokasi dapat menjadi deiksis jika tempat atau lokasi dapat terlihat dari lokasi orang-orang yang melakukan komunikasi dalam kegiatan pembicaraan.

Deiksis tempat bisa terlihat dari penggunaan demonstrative pronoun seperti kata: "this" dan "that", dan juga bisa dilihat sebagai demonstrative adverbs yang menyatakan tempat seperti: "here" dan "there".

"There you go"

Kata "there" adalah sebuah adverb of place (kata keterangan tempat) yang mengacu pada sesuatu tempat yang diketahui oleh penutur dan penutur tersebut mengetahui maksud dari tempat tersebut.

4. Deiksis Sosial (Social Deixis)

Deiksis sosial adalah  mengungkapkan atau menunjukkan perbedaan ciri sosial antara pembicara dan lawan bicara atau penulis dan pembicara dengan topik atau rujukan yang dimaksud dalam pembicaraan itu (Agustina, 1995:50).

Fillmore in Levinson states that social dexis concerns that aspect of sentences, which reflect or establish are determine by certain realities of the social situation in which the speech act occurs (1983:89).

("Fillmore dalam Levinson menyatakan bahwa deiksis sosial berhubungan dengan pemahaman aspek dari kalimat-kalimat, yang mana menggambarkan atau menentukan perbandingan realita sosial dalam kejadian tindak tutur").

There are also in many languages forms reserved for authorized receipients, including restriction on most titles of address like your honor, your royal hignes, Mr. President, etc. (Haas in Levinson, 1983:91).

("Adapula beberapa contoh dalam bahasa yang termasuk kedalam deiksis sosial dalam bentuk penghormatan untuk orang yang diagungkan termasuk pembatasan pada gelar yang dituju seperti kata your honor, your royal highnes, Mr. President").

Contoh lain dari deiksis sosial misalnya penggunaan kata mati, wafat, meninggal, mangkat untuk menyatakan keadaan meninggal dunia. Masing-masing kata tersebut berbeda pemakaiannya.  

5. Deiksis Wacana (Discourse Deixis)

Discourse deixis refers to such matters the use of this the point to future discourse element (Cruise, 2000:323). According to Levinson (1983:85), discourse deixis concern the use of expressions within some utterance to refer to some portion of the discourse contents that utterance (including the use of the utterance itself)

("Deiksis wacana mengacu pada beberapa masalah yang digunakan untuk menunjuk element wacana (Cruise, 2000:323), menurut Levinson (1983:85), deiksis wacana berhubugan dengan pemahaman penggunaan ungkapan dalam beberapa percakapan mengacu pada porsi dari isi wacana dalam percakapan (termasuk penggunaan perckapan itu sendiri).

Deiksis wacana adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau yang sedang dikembangkan (Agustina, 1995:47). Deiksis wacana ditunjukan oleh anafora dan katafora. Sebuah rujukan dikatakan bersifat anafora apabila perujukan atau penggantinya merujuk kepada hal yang sudah disebutkan. Sementara itu, sebuah rujukan atau referen dikatakan bersifat katafora jika rujukannya menunjuk kepada hal yang akan disebutkan.

Sebuah kata bisa disebut sebagai deiksis wacana jika kata tersebut mengacu pada bagian pasti dari teks tersebut dimana referen dibuat menjadi wacana saat ini. Contoh deksis wacana adalah yang terdahulu, yang pertama,yang berikut, next thursday, in the last paraagraph, dan in the next chapter.

Pronoun bisa termasuk ke dalam deiksis wacana jika pronoun tersebut digunakan untuk mengacu pada referen sebagai bagian dari wacana atau pronoun pula bisa dikatakan sebagai co-referential

"I was born in Indonesia and I have lived here all my life"

"That was an amazing day"

"This is a great story"

Kata here mengacu pada Indonesia sejak penutur dilahirkan dan telah tinggal di Indonesia, sedangkan kata that mengacu pada hari dan this mengacu pada cerita. Ada perbedaan antara bentuk demonstrative: that dan this. Kadang, that digunakan pada porsi utama dalam wacana, sedangkan this digunakan pada porsi berikutnya dari wacana.


Referensi

Agustina. 1995. Pragmatik Dalam Pengajaran Bahasa Indonesia. Padang: IKIP Padang.

Cruise, Alan. 2000. Meaning in Language: An Introduction to Semantics and Pragmatics. New York: Oxford University Press

Levinson, Stephen C. 1983. Pragmatics. Cambridge, England: Cambridge University Press
 
Nadar F.X. 2009. Pragmatik & Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu

Parker, Frank. 1986. Linguistics for Non-Linguistics. London: Taylor and Francis, Ltd.

Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar